PUZZLE NAMA MALAIKAT DAN TUGAS-TUGASNYA
Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan puzzle nama malaikat dan tugasnya adalah sebagai berikut :
1. Kertas Cartoon
2. Kertas Asturo
3. Styroform
4. Doubletipe
5. Spidol
6. Penggaris
7. Gunting
8. Cutter
9. Pensil
Cara membuat puzzle nama malaikat dan tugasnya adalah sebagai berikut :
1. Sediakan styroform, penggaris, cutter dan spidol
2. Garis styroform menjadi dua bagian, kemudian perlokasi dibagi 5 baris
3. Gambar pola puzzle pada masing-masing lokasi yang sudah di garis
4. Potong puzzle sesuai dengan pola yang sudah dibuat
5. Lapisi puzzle yang sudah dipotong dengan kertas asturo, kemudian kita tulis nama dan tugas malaikat pada setiap permukaan puzzle
6. Tempelkan styroform pada kertas cartoon
7. Lapisi setiap puzzle dengan doubletipe agar bisa merekat pada kertas cartoon
8. Pasangkan tugas malaikat pada kertas cartoon sesuai dengan urutan dari yang pertama sampai yang terakhir
9. Kumpulkan nama malaikat pada sebuah wadah agar nanti anak dapat mencocokan nama dan tugas malaikat
10. Buat hiasan bunga untuk mempercantik puzzle dan tempelkan ke sudut styroform
Cara penggunaan puzzle nama dan tugas malaikat adalah sebagai berikut :
1. Sebelum memulai permainan puzzle anak diberi materi tentang nama dan tugas para malaikat
2. Minta anak untuk menghafalkannya satu per satu agar anak mampu menguasai permainan
3. Tunjuk anak satu persatu untuk maju kedepan dan meletakan atau mencocokan nama dan tugas malaikat
4. Lakukan berulang sampai anak benar-benar paham
Keunggulan dari permainan puzzle nama dan tugas malaikat adalah sebagai berikut :
1. Anak mampu mengenal dan mengetahui nama malaikat
2. Anak mampu mengenal dan mengetahui tugas para malaikat
3. Belajar lebih menyenangkan dan anak akan lebih cepat paham karena diajak bermain sambil belajar
Kelemahan dari permainan puzzle ini adalah sebagai berikut :
1. Jika anak tidak mengusai materi maka anak akan kesulitan dalam permainan ini
2. Terlalu ribet dalam pembuatan permainan ini
3. Banyak bahan untuk membuat permainan ini
4. Seorang guru harus kreatif dan meluanglkan waktu untuk pembuatan permainan ini.
Tampilkan postingan dengan label Perkuliahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perkuliahan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 06 Februari 2018
Sabtu, 03 Februari 2018
Penelitian Tindakan Kelas
MAKALAH
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian
Dosen Pengampu : Lumaur Ridlo,S.Psi.,M.Pd.
Disusun Oleh :
1. Faridatul Husna (1623211033)
2. Nurul Hidayah (1623211011)
3. Ika Juniarti (1623211022)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM IMAM GHOZALI CILACAP (IAIIG)
2017
KATA PENGANTAR
Penulis menyadari tersusunnya makalah ini bukanlah semata-mata hasil jerih payah penulis sendiri, melainkan berkat bantuan berbagai pihak. Untuk itu, kami menghaturkan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyususan makalah ini.
Semoga Alloh SWT memberikan pahala yang setimpal dan menjdikan amal sholeh bagi semua pihak yang telah turut berpartisipasi dalam penyelesaian makalah ini. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin Ya Rabbal’alamin.
PENULIS
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR 2
BAB I 3PENDAHULUAN 3
A. Latar Belakang 4
B. Rumusan Masalah 5
C. Tujuan 5
BAB II 6
PEMBAHASAN 6
A. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) 6
B. Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas 8
C. Prosedur atau Desain PTK 11
1. Perencanaan (plannimg) 11
2. Pelaksanaan Tindakan (Acting) 12
3. Pengamatan (observing) 13
4. Refleksi (reflecting) 13
D. Mengidentifikasi Dan Menganalisis Masalah 14
1. Ruang Lingkup Masalah 14
2. Identifikasi masalah 15
3. Analisis masalah 16
4. Teknik Mencari Permasalahan 16
5. Beberapa permasalahan yang bisa dijadikan PTK 16
6. Sumber Masalah PTK 17
E. Analisis Data 17
BAB III 19
PENUTUP 19
DAFTAR PUSTAKA 20
BAB I
PENDAHULUAN
Persyaratan utama yang harus dipenuhi bagi berlangsungnya pembelajaran yang menjamin optimalisasi hasil pembelajaran ialah tersedianya guru dengan kualifikasi dan kompetensi yang mampu memenuhi tuntutan tugasnya. Mutu pendidikan pada hakikatnya adalah bagaimana memastikan bahwa pembelajaran yang dilakukan guru dikelas berlangsung dengan baik dan bermutu. Jadi mutu pendidikan ditentukan didalam kelas melalui pembelajaran. Untuk mencapai hasil pembelajaran yang optimal, dibutuhkan guru yang kreatif dan inovatif yang selalu mempunyai keinginan terus menerus untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran dikelas. Salah satu upaya tersebut adalah dengan melaksanakan penelitian tindakan kelas. Dengan PTK, kekurangan atau kelemahan yang terjadi dalam proses belajar mengajar dapat teridentifikasi dan terdeteksi, untuk selanjutnya dicari solusinya yang tepat. Karena, PTK memiliki peranan yang sangat penting dan strategis untuk meningkatkan mutu pembelajaran apabila diimplementasikan dengan baik dan benar. Diimplementasikan dengan baik, artinya pihak yang terlihat dlam PTK (Guru) mencoba dengan sadar mengembangkan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah-masalah yang terjadi dalam pembelajaran dikelas melalui tindakan bermakna yang diperhitungkan dapat memecahkan masalah atau memperbaiki situasi dan kemudian secara cermat mengamati pelaksanaannya untuk mengukur tingkat keberhasilannya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ?
2. Bagaimana karateristik PTK ?
3. Bagaimana prosedur PTK ?
4. Bagaimana cara mengidentifikasi dan menganalisis masalah?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian penelitian tindakan kelas
2. Untuk mengetahui karakteristik PTK
3. Untuk mengetahui prosedur PTK
4. Untuk mengetahui cara mengidentifikasi dan menganalisis masalah
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Penelitian aksi adalah suatu penelitian yang dilakuakn oleh seorang yang bekerja mengenai apa yang sedang ia laksanakan tanpa mengubah sistem pelaksanaanya. Jika mengacu pada istilah action reserach dan operation reserch, maka sesungguhnya juga merupakan penelitian yang berbeda, tetapi begitu mirip hingga dismakan. Action research mengacu pada aksi atau tindakan, dalam arti peneliti melakukan suatu tindakan, eksperimen yang diamati secara terus menerus, kemudian diadakan pengubahan terkentrol sampai pada upaya maksimal dalam bentuk tindakan yang paling tepat. Sedangkan operation research merujuk kepada kegiatan yang sedang berlangsung, yakni bahwa penelitian yang sedang dilakukan bukan yang menciptakan yang baru semata, tetapi menempel pada suatu kegiatan yang berlangsung.
Penenitian Tindakan Kelas ( PTK ) memiliki peranan yang sangat penting dan strategis untuk meningkatkan mutu pembelajaran apabila diimplementasikan dengan baik dan benar. Diimplementasikan dengan baik, artinya pihak yang terlihat dalam PTK (Guru) mencoba dengan sadar mengembangkan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah-masalah yang terjadi dalam pembelajaran dikelas melalui tindakan bermakna yang diperhitungkan dapat memecahkan masalah atau memperbaiki situasi dan kemudian secara cermat mengamati pelaksanaannya untuk mengukur tingkat keberhasilannya.
Penelitian adalah suatu kegiatan penyelidikan yang dilakukan menurut metode ilmiah yang sistematis untuk menemukan informasi ilmiah atau teknologi baru, membuktikan kebenaran atau ketidak benaran Hipotesis sehingga dapat dirumuskan teori atau proses gejala sosial.
Penelitian juga bisa diartikan kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan aturan metodeologi tertentu untuk mendapatkan data atau informasi yang bermanfaat untuk selanjutnya data tersebut dianalisis untuk dicari kesimpulannya. Penelitian ilmiah pada dasarnya adalah usaha mencari kebenaran perolehan makna tentang sesuatu yang dikaji. Memahami makna berarti memahami suatu hakikat keberadaan, fakta dan kejadian-kejadian sebagai suatu kausalitas.
Dari beberapa pengertian tentang penelitian tindakan kelas dapat disimpulkan tiga prinsip yakni :
1. Adanya partisipasi dari peneliti dalam suatu program atau kegiatan
2. Adanya tujuan untuk meningkatkan kualitas suatu program atau kegiatan melalui penelitian tindakan tersebut
3. Adanya tindakan (treatment) untuk meningkatkan kualitas suatu program atau kegiatan.
Mengacu pada prinsip diatas, penelitian tindakan kelas dapat didefinisikan sebagai suatu penelitian tindakan (action research) yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti dikelasnya atau bersama-sama dengan orang lain (kolaborasi) dengan jalan merancang, melaksankan dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu (kualitas) proses pembelajaran dikelasnya melalui suatu tindakan tertentu dalam suatu siklus. Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi dikelas dan meningkatkan kegiatan nyata guru dalam kegiatan pengembangan profesinya..
Dalam konteks kependidikan mengandung pengertian PTK adalah sebuah bentuk kegiatan refleksi diri yang dilakukan oleh para pelaku pendidikan dalam suatu situasi kependidikan untuk memperbaiki rasionalitas dan keadilan tentang :
a) Praktik praktik kependidikan mereka
b) Pemahaman mereka tentang praktik praktik tersebut
c) Situasi dimana praktik praktik tersebut dilaksanakan
Penelitian tindakan kelas termasuk penelitian kualitatif meskipun data yang dikumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif, dimana urainnya bersifat deskriptif dalam bentuk kata–kata, peneliti merupakan isntrumen pertama dalam pengumpulan data, proses sama pentingnya dengan produk. Perhatian peneliti diarahkan kepada pemahaman bagaimana berlangsungnya suatu kejadian atau efek dari suatu tindakan.(Rojiati,2005).
Penelitian Tindakan Kelas harus dilakukan dikelas yang sehari hari diajar, bukan kelas yang diajar oleh guru lain meskipun masih dalam satu sekolah. Hal ini disebabkan PTK adalah suatu penelitian yang berbasis pada kelas. Penelitian dapat dilakukan secara mandiri, tetapi alangkah baiknya kalau dilaksanakan secara kolaboratif, baik dengan teman sejawat, kepala sekolah, pengawas, widyaisuara, dosen dan pihak lain yang relevan dengan PTK. Hasil PTK dapat digunakan untuk memperbaiki mutu proses belajar mengajar sesuai dengan kondisi dan karakteristik sekolah, siswa dan guru. Melalui PTK guru dapat mengembangkan model-model mengajar yang bervariasi, pengelolaan kelas dinamis dan kondusif, serta penggunaan media dan sumber belajar yang tepat dan memadai. Dengan penerapan-penerapan hasil hasil PTK secara berkesinambungan diharapkan PBM disekolah (kelas) tidak kering dan membosankan serta menyenangkan siswa. Atau dengan istilah yang lebih populer adalah PAIKEM (Pembelajarn Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan)
B. Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas
PTK berbeda dengan penelitian formal ( konvensional) pada umumnya. PTK memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. On-the job problem oriente, masalah yang diteliti adalah masalah ril atau nyata yang muncul dari dunia kerja peneliti atau yang ada dalam kewarganegaraan atau tanggung jawab peneliti.
2. Problem-solving oriented yaitu yang Berorientasi pada pemecahan masalah. PTK yang dilakukan oleh guru dilakukan sebagai upaya untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh guru dalam PBM dikelasnya melalui suatu tindakan (treatment) tertentu sebagai upaya menyempurnakan proses pembelajaran dikelasnya.
3. Improvement-oriented yaitu berorientasi pada peningkatan mutu. PTK dilaksanakan dalam kerangka untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu PBM yang dilakukan oleh guru dikelasnya. PTK bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran dengan asumsi bahwa semakin baik kualitas proses pembelajaran maka semakin baik juga
hasil belajar yang dicapai siswa.
4. Ciclic (siklus) Konsep tindakan (action) dalam PTK diterapkan melalui urutan yang terdiri dari beberapa tahap berdaur ulang (cyclical). Siklus dalam PTK ini terdiri dari empat tahapan yakni perencanaan tindakan, melakukan tindakan, pengamatan atau observasi dan analisis atau refleksi.
5. Action oriented Dalam PTK selalu didasarkan pada adanya tindakan (treatment) tertentu untuk memperbaiki PMB dikelas. Jadi, tindakan dalam PTK ini adalah sebagai alat atau cara untuk memperbaiki masalah dalam PBM yang dihadapi guru dikelas.
6. Pengkajian terhadap dampak tindakan. Dalam tindakan yang dilakukan harus dikaji apakah sesuai dengan tujuan, apakah memberi dampak positif lain yang tidak diduga sebelumnya, atau bahkan menimbulkan dampak dampak negative yang merugikan peserta didik.
7. Specifics contextual. Aktifitas PTK dipicu oleh permasalahan praktis yang dihadapi oleh guru dalam PBM dikelas. Permasalahan dalam PTK adalah permasalahan yang bersifat spesifik kontekstual dan situasional sesuai dengan karakteristik siswa dalam kelas tersebut. Tujuan
PTK bukan menemukan pengatahuan baru yang dapat digeneralisasikan, tetapi tetap bersifat paragmatis dan praktis, yakni memperbaiki atau meningkatkan mutu PBM dikelas.
8. Partisipatory (collaborative). PTK ini dilaksanakan secara kolaboratif dan bermitra dengan pihak lain, seperti teman sejerawat. Jadi, dalam PTK perlu ada partisipasi dari pihak lain yang berperan sebagai pengamat.
9. Peneliti sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi. Dalam refleksi ini banyak hal yang harus dilakukan yaitu mulai dari mengevaluasi tindakan sampai dengan memutuskan apakah masalah itu tuntas atau perlu tindakan lain dalam siklus berikutnya. Refleksi adalah merenungkan apa yang sudah kita kerjakan baik didalam kelas atau diluar kelas.
10. Dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus dimmana dalam satu siklus terdiri dari tahapan perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection) dan selanjutnya diulang kembali dalam beberapa siklus.
Menurut Richart Winter (1996) ada enam karakteristik PTK, yaitu: Kritis refleksi, Kritik dialektis, Kolaboratif, Resiko, susunan jamak, dan Internalisasi teori dan praktik.
Sedangkan tujuan dari PTK adalah sebagai berikut:
1. Untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi didalam kelas, meningkatkan profesionalisme guru dan menumbuhkan budaya akademik dikalangan para guru.
2. Peningkatan kualitas praktik pembelajaran dikelas secara terus menerus Peningkatan relavasi pendidikan, hal ini dicapai melalui peningkatan pores belajar.
3. Sebagai alat training in-service, yang memperlengkapi guru dengan skil dan metode baru, mempertajam kekuatan analitisnya dan mempertinggi kesadaran dirinya.
4. Sebagai alat untuk memasukan pendekatan tambahan atau inovatif terhadap system pembelajaran yang berkelanjutan yang biasanya menghambat inovasi dan perubahan.
5. Peningkatan mutu hasil pendidikan melalui perbaikan praktik pembelajaran dikelas dengan mengembangkan berbagai jenis ketrampilan dan motivasi belajar siswa.
6. Meningkatkan sikap professional pendidikan dan tenaga kependidikan.
7. Menumbuhkan budaya akademik dilingkungan sekolah, sehingga tercipta sikap proaktif dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan.
C. Prosedur atau Desain PTK
Layaknya sebuah penelitian, PTK juga memiliki prosedur atau aturan yang perlu diperhatikan. Arikunto (2013:17) menjelaskan bahwa satu siklus PTK terdiri dari empat lamgkah yaitu :
1. Perencanaan (plannimg)
Sebelum melaksanakan PTK, seorang guru hendaknya melaksanakan terlebih dahulu konsepnya dengan membuat perencanaan dalam bentuk tulisan. Arikunto (2010:17) mengemukakan bahwa perencanaan adalah langkah yang dilakukan oleh guru ketika akan memulai tindakannya. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam kegiatan ini yakni:
a. Membuat skenario pembelajaran
Skenario pembelajaran merupakan bagian utama yang harus disiapkan oleh seorang guru dalam penulisan PTK. Bentuk nyata skenario pembelajaran dalam PTK adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
b. Membuat lembaran observasi di dalam pengertian psikologi, observasi atau disebut pula pengamatan meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera. Untuk dapat merealisasi kegiatan observasi maka dibuatlah lembar observasi. Implikasi pembuatan lembar observasi dapat mendukung keabsahan dan menghindarkan hasil PTK dari unsur bias. Secara khusus lembar observasi dimaksudkan guna mengukur keberhasilan peneliti.
c. Mendesain alat evaluasi
Alat evaluasi atau disebut “tes” secara umum dibagi menjadi empat, yaitu tes lisan, tes objektif, soal uraian, dan soal terbuka. Setiap guru harus cermat dalam menentukan alat evaluasi yang digunakan, untuk itu alat evaluasi tersebut perlu diuji cobakan terlebih dahulu di luar subjek penelitian.
2. Pelaksanaan Tindakan (Acting)
Tahap ini merupakan pelaksanaan skenario pembelajaran yang telah dibuat. Seorang guru yang akan melakukan tindakan harus memahami secara mendalam tentang skenario pembelajaran
beserta dengan langkah-langkah praktisnya. Lebih jauh Ari Kunto (2010: 18) memaparkan secara rinci hal-hal yang harus diperhatikan guru antara lain:
a. Apakah ada kesesuaian antara pelaksanaan dengan perencanaan.
b. Apakah proses tindakan yang dilakukan pada siswa cukup lancar.
c. Bagaimanakah situasi proses tindakan.
d. Apakah siswa-siswa melaksanakan dengan bersemangat.
e. Bagaimanakah hasil keseluruhan dari tindakan itu.
3. Pengamatan (observing)
Pengamatan adalah proses mencermati jalannya pelaksanaan tindakan (Ari Kunto, 2010: 18). Kegiatan ini merupakan realisasi dari lembar observasi yang telah dibuat pada saat perencanaan. Ari Kunto (2010: 19) memaparkan tentang siapa yang melakukan pengamatan pada pelaksanaan tindakan sebagai berikut.
a. Pengamatan dilakukan oleh orang lain, yaitu pengamatan yang diminta oleh peneliti untuk mengamati proses pelaksanaan tindakan, yaitu mengamati apa yang dilakukan oleh guru,
siswa maupun peristiwanya.
b. Pengamatan dilakukan oleh guru yang melaksanakan PTK. Dalam hal ini guru tersebut harus sanggup “ngrogoh sukmo” istilah bahasa jawa, yaitu mencoba mengeluarkan jiwanya dari tubuh untuk mengamati dirinya, apa yang sedang dilakukan, sekaligus mengamati apa yang dilakukan oleh siswa dan bagaimana proses berlangsung.
Pengamat disebut juga observer dari luar seharusnya guru yang memiliki pengalaman tentang pembelajaran seperti guru senior atau minimal sama masa kerjanya, mengajar pada mata pelajaran yang sama atau serumpun.
4. Refleksi (reflecting)
Refleksi atau dikenal dengan peristiwa perenungan adalah langkah mengingat kembali kegiatan lampau yang dilakukan oleh guru atau siswa (Arikunto,2010:19). Pada tahap ini hasil yang diperoleh pada tahap observasi akan dievaluasi dan dianalisis.. Kemudian guru bersama pengamat dan juga peserta didik mengadakan reflaksi diri dengan melihat data obsservasi, apakah kegiatan yang telah dilakukan dapat meningkatkan kualitas kegiatan pembelajaran khususnya target yang akan ditingkatkan dalam penelitian misalnya hasil belajar, motivasi, kemampuan menulis, kemampuan membaca dan lain sebagainya. Refleksi adalah koreksi atas kegiatan tindakan jadi peran pengamat dan peserta didik sangat membantu keberhasilan penelitian. Dari hasil refleksi bersama akan diperoleh kelemahan dan cara memperbaikinya guna diterapkan pada siklus berikutnya.
D. Mengidentifikasi Dan Menganalisis Masalah
1. Ruang Lingkup Masalah
Ruang lingkup masalah yang dijadikan harapan PTK anatara lain :
a. Metode mengajar, mungkin mengganti metode konvensional (tradisional) dengan metode penemuan.
b. Setrategi belajar, misalnya menggunakan pendekatan integratif pada pembelajaran dari pada satu guru mengajar saja.
c. Prosedur evaluasi, misalnya meningkatkan metode dalam penilaian kontinu.
d. Penanaman maupun perubahan sikap dan nilai, mungkin mendorong timbulnya sikap yang lebih positif terhadap beberapa aspek kehidupan.
e. Pengembangan profesionalisme guru, misalnya meningkatkan ketrampilan belajar,menggembangkan metode mengajar yang baru, menambahkan kemampuan
analisis atau meningkatkan kesadaran diri.
f. Pengelolaan dan kontrol, pengenalan bertahap pada teknik modifikasi perilaku.
g. Administrasi, menambahkan efisiensi aspek tertentudari administrasi sekolah.
2. Identifikasi masalah
Identifikasi masalah hendaknya dilakukan oleh peneliti.
Beberapa kriteria dalam menentukan masalah PTK adalah :
a. Masalah apa yang akan diteliti.
b. Masalah benar-benar terjadi dalam proses belajar mengajar dikelas.
c. Penting dan bermanfaat untuk meningkatkan mutu PBM
d. Masalah harus penting bagi orang yang mengusulkannya dan sekaligus signifikan dilihat dari segi pengembangan lembaga.
e. Masalah hendaknya dalam jangkauan penanganan, baik dari segi tenaga, biaya dan waktu.
f. Pernyataan masalah harus mengungkap beberapa dimensi fundamental mengenai penyebab dan akibat.
g. Alasan mengapa penelitian tersebut dilakukan.
h. Cara yang akan digunakan untuk menemukan jawaban dari suatu masalah tersebut.
i. Jangan mengangkat permasalahan yang guru tidak mungkin dapat menyelesaikannya karena diluar jangkauan tugas guru.
j. Masala yang rill dan problematika.
k. Pilihlah fokus penelitian yang spesifik dan terbatas yang dapat dicari solusinya dalam waktu singkat.
Kesebelas kriteria diatas dapat dikategorikan dalam 4 perspektif dalam mengukur suatu
kelayakan masalah sebagi berikut.
a. Perspektif keilmuan, yakni berguna bagi pengembangan teori suatu ilmu.
b. Perspektif metode keilmuan, yakni mengembangkan metode keilmuan.
c. Perspektif keilmuan dan kegunaannya, yakni nilai praktis dari penelitian.
d. Perspektif teknis dan situasional, yakni mengembangkan cara atau teknik tertentu sesuai dengan situasi yang dihadapi.
3. Analisis masalah
Didalam menganalisis masalah untuk PTK ini guru harus ingat bahwa tidak semua topik penelitian dapat diangkat sebagai topik PTK. Berikut 4 aspek yang dapat dijadikan masalah dalam PTK yaitu:
a. Masalah yang berkaitan dengan pengelolaan kelas.
b. Masalah proses belajar mengajar.
c. Masalah pengembangan atau penggunaan sumber-sumber belajar.
4. Teknik Mencari Permasalahan
Teknik mencari permasalahan dengan pertanyaan- pertanyaan berikut:
a. Apa yang sekarang sedang terjadi?
b. Apakah yang sedang berlangsung itu mengandung permsalahn?
c. Apa yang dapat saya lakukan untuk mengatasinya?
5. Beberapa permasalahan yang bisa dijadikan PTK
Beberapa permasalahan dalam aspek pembelajaran yang dapat dijadikan kajian PTK antara lain:
a. Rendahnya ketelibatan siswa dalam proses pembelajaran mata pelajaran X.
b. Metode pembelajaran yang kurang tepat.
c. Perhatian anak terhadap PBM matematik rendah.
d. Media pembelajaran yang tidak ada atau kurang.
e. Sistem penilaian yang tidak atau kurang sesuai.
f. Motifasi belajar siswa yang rendah.
g. Rendahnya kemandiran belajar siswa.
h. Siswa datang terlambat kesekolah.
6. Sumber Masalah PTK
a. Masalah yang berkaitan dengan input dapat bersumber dari: siswa, guru, sumber belajar, materi pelajaran, prosedur evaluasi, dan lingkungan belajar.
b. Masalah yang berkaitan dengan proses kegiatan belajar mengajar dapat bersumber dari: interaksi belajar mengajar, ketrampilan bertanya guru atau siswa, gaya mengajar, cara belajar dan implementasi metode pembelajaran.
c. Masalah yang berkaitan dengan ouput dapat bersumber dari hasil belajar siswa, daya ingat siswa, sikap negatif siswa, dan motifasi rendah.
E. Analisis Data
Analisis data diwakili oleh momen refleksi putaran penelitian tindakan kelas. Tetapi perlu diingat bahwa dalam menganalisis data sering peneliti menjadi terlalu subjektif dan oleh karena itu perlu diadakan diskusi dengan teman sejawat untuk melihat datanya lewat perspektif yang berbeda. Jika dalam menganalisis data yang kompleks peneliti menggunakan teknis analisis kualitatif, yang salah satu modelnya adalah teknik analisis kualitatif, yang salah satu modelnya adalah teknik analisis interaktif yang dikembangkan oleh milles dan huberman(1984)
Analisis interaktif tersebut terdiri atas tiga komponen kegiatan yang saling terkait satu sama lain: reduksi data, beberan (display) data, dan penarikan kesimpulan.
Reduksi data merupakan proses menyeleksi, menentukan fokus, menyederhanakan, meringkas, dan mengubah bentuk data mentah yang ada dalam catatan lapangan. Misalnya data tentang proses pembelajaran dikelas dapat direduksi dengan memfokuskan perhatian pada apa yang dilakukan guru pada permulaan pembelajaran, pada bagian inti atau utama pembelajaran dan pada bagian akhir pembelajaran. Pada bagian utama pembelajaran dapat direduksi dengan memfokuskan perhatian pada apakah ada tindakan guru yang berkenaan: upaya membantu atau memfasitasi siswa dalam memahami isi atau konsep pelajaran, upaya memotivasi siswa atau meningkatkan percaya diri siswa dengan menguji, dan mengelolah kelas.
Dengan mereduksi data tentang proses pembelajarn, akan dapat ditarik kesimpulan apakah guru mengelola pembelajaran secara kondusif sehingga PBM berlangsung efektif dan menyenangkan. Setelah direduksi data siap dibeberkan artinya tahap analisis sampai pada pembeberan data. Berbagai macam data PTK yang telah direduksi perlu dibeberkan dengan tertata rapi dengan narasi plus matriks, grafik atau diagram. Pembeberan data yang sistematis dan interaktif akan memudahkan pemahaman terhadap apa yang telah terjadi sehingga memudahkan penarikan kesimpulan atau menentukan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya. Penarikan kesimpulan tentang peningkatan atau perubahan yang terjadi dilakukan secara bertahap mulai dari kesimpulan sementara yang ditarik pada siklus satu kekesimpulan terefisi pada akhir siklus dua dan seterusnya dan kesimpulan terakhir pada siklus terakhir. Kesimpulan yang pertama sampai dengan yang terakhir saling terkait dan kesimpulan pertama sebagai pijakan.
BAB III
PENUTUP
Penelitian tindakan kelas adalah suatu penelitian tindakan (action research) yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti dikelasnya atau bersama-sama dengan orang lain (kolaborasi) dengan jalan merancang, melaksankan dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu (kualitas) proses pembelajaran dikelasnya melalui suatu tindakan tertentu dalam suatu siklus. Dalam penelitian tindakan kelas ada karakteristik tertentu yaitu: On-the job problem oriente, Problem-solving oriented, Improvement-oriented, Ciclic (siklus), Action oriented, Pengkajian terhadap dampak tindakan, Specifics contextual, Partisipatory (collaborative), Peneliti sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi, selanjutnya, dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus dimmana dalam satu siklus terdiri bebetapa tahapan. PTK juga memiliki beberapa prosedur atau aturan. Untuk mengidentifikasi atau menganalisis masalah harus mengetahui ruang lingkup masalah, mengidentifikasi masalah, menganalisis masalah, mencari permasalahan, dan mencari sumber masalah.
DAFTAR PUSTAKA
Iskandar, D. d. (2015). penelitian tindakan kelas dan publikasunya. cilacap: ihya media.
kunandar. (2009). penelitian tindakan kelas. jakarta: rajawali pres.
umi zulfa, S. M. (2010). metodologi penelitian sosial. yogyakarta: cahaya ilmu.
Makalah Komputer
MAKALAH
PRAKTIK KOMPUTER
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Praktik Komputer
Di susun oleh :
Nama : Nurul Hidayah
Fakultas/Prodi : Tarbiyah/PAI
NIM : 1623211011
INSTITUT AGAMA ISLAM IMAM AL-GHAZALI
TAHUN PELAJARAN 2016/2017
KATA PENGANTAR
Saya menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan agar dalam pembuatan makalah selanjutnya bisa lebih baik lagi.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR 1
DAFTAR ISI 2
BAB I 3
PENDAHULUAN 3
A. Latar Belakang 3
B. Rumusan Masalah 3
C. TUJUAN 4
BAB II 5
PEMBAHASAN 5
A. Pengertian Anak yang Berkebutuhan Khusus 5
B. Jenis-jenis Anak Berkebutuhan Khusus 5
1. Anak Tuna Netra 5
2. Anak Tuna Rungu 6
3. Anak Tuna Daksa 7
4. Anak Tuna Wicara 8
5. Kelainan emosi 8
6. Keterbelakangan Mental 9
C. Sebab-sebab Anak Berkebutuhan Khusus 9
1. Peristiwa Pra Natal (dalam kandungan) 9
2. Natal (saat kelahiran) 10
3. Post Natal (setelah kelahiran) 10
D. Cara Menangani Anak Berkebutuhan Khusus 10
BAB III 11
PENUTUP 11
A. KESIMPULAN 11
B. SARAN 11
DAFTAR PUSTAKA 12
DAFTAR GAMBAR
gambar 1 Tuna Netra 8
gambar 2 Tuna Rungu 8
gambar 3 Tuna Daksa 9
gambar 4 Tuna Wicara 10
gambar 5 Idiot 12
BAB I
PENDAHULUAN
Tidak semua anak yang dilahirkan di dunia ini selalu mengalami perkembangan normal. Banyak diantara mereka yang dalam perkembangannya mengalami hambatan, gangguan, keterbatasan atau memiliki factor-faktor resiko sehingga untuk mencapai perkembangan optimal diperlukan penanganan atau intervensi khusus. Kelompok inilah yang kemudian dikenal sebagai anak berkebutuhan khusus atau anak yang luar biasa.
Anak yang berkebutuhan khusus disebut cacat karena mereka termasuk anak yang pertumbuhan dan perkembangannya mengalami penyimpangan atau kelainan, baik dari segi fisik, mental, emosi, serta sosialnya bila dibandingkan dengan anak yang normal. Karakteristik spesifik anak kebutuhan khusus pada umumnya berkaitan dengan tingkat perkembangan fungsional. Adanya perbedaan karakteristik setiap peserta didik berkebutuhan khusus, anak memerlukan kemampuan guru khusus. Guru dituntut memiliki kemampuan berkaitan dengan cara mengombinasikan kemampuan dan bakat setiap anak dalam beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut meliputi kemampuan berpikir, melihat, mendengar, berbicara, dan cara bersosialisasi. Hal-hal tersebut diarahkan pada keberhasilan dari tujuan akhir pembelajaran, yaitu perubahan perilaku kearah dewasa.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan anak berkebutuhan khusus?
2. Apa saja jenis-jenis anak berkebutuhan khusus?
3. Apa yang menyebabkan anak berkebutuhan khusus?
4. Bagaimana cara menangani anak berkebutuhan khusus?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian dari anak berkebutuhan khusus
2. Untuk mengetahui jenis-jenis anak berkebutuhan khusus
3. Untuk mengetahui penyebab anak berkebutuhan khusus
4. Untuk mengetahui cara menangani anak yang berkebutuhan khusus
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Anak yang Berkebutuhan Khusus
Menurut Hallahan dan Khauffman, anak berkebutuhan khusus didefinisikan sebagai anak yang memerlukan pendidikan dan layanan yang khusus untuk mengembangkan potensi kemanusiaan mereka secara sempurna. Dalam percakapan sehari-hari, anak berkebutuhan khusus dijuluki sebagai “orang luar biasa”, dikarenakan mereka memiliki kelebihan yang luar biasa, misalnya orang yang terkenal memiliki kemampuan intelektual yang luar biasa, memiliki kreatifitas yang tinggi dalam melahirkan sesuatu temuan-temuan yang luar biasa disbanding iptek, religious, dan dibidang kehidupan lainnya.
B. Jenis-jenis Anak Berkebutuhan Khusus
Berikut beberapa anak yang berkebutuhan khusus, adalah sebagai berikut:
1. Anak Tuna Netra
Adalah anak yang mempunyai kekurangan secara indrawi, yakni penglihatan. Gambar dibawah ini adalah anak yang mengalami tuna netra.
gambar 1 Tuna Netra
2. Anak Tuna Rungu
Adalah anak yang mempunyai kelainan pada pendengarannya. Gambar di bawah ini adalah anak penderita tuna rungu.
gambar 2 Tuna Rungu
3. Anak Tuna Daksa
Adalah anak yang mempunyai kelainan pada tubuhnya yakni kelumpuhan. Ini disebabkan karena polio dan gangguan pada syaraf motoriknya. Gambar di bawah menunjukan anak yang mengalami tuna daksa yang berprestasi.
gambar 3 Tuna Daksa
4. Anak Tuna Wicara
Adalah anak yang mempunyai kelainan pada proses berbicara atau berbahasa. Anak yang seperti ini mengalami kesulitan dalam berbahasa dan berbicara sehingga tidak dapat dimengerti oleh orang lain. Contoh orang yang mengalami tuna wicara.
gambar 4 Tuna Wicara
5. Kelainan emosi
Adalah anak yang berkelainan pada tingkat emosinya. Anak yang mengalami kelainan emosi dibagi menjadi 2 :
a. Gangguan perilaku, ciri-cirinya:
1). Suka menggagu di kelas
2). Tidak sabaran, terlalu cepat beraksi
3). Tidak menghargai orang lain
4). Suka menentang
5). Suka menyalahkan orang lain
6). Sering melamun
b. Gangguan Konsentrasi
Gejala-gejalanya terjadi paling sedikit selama 6 bulan, gejala-gejala tersebut antara lain:
1). Tidak mendengarkan orang lain berbicara
2). Sering gagal dalam memperhatikan objek tertentu
3). Sering tidak melalukan perintah dari orang lain
c. Anak Hiperaktif (ADHD)
Gejala-gejalanya adalah sebagai berikut:
1). Tidak bisa diam
2). Ketidak mampuan untuk memberi perhatian yang cukup lama
3). Hiperaktivitas
4). Canggung
6. Keterbelakangan Mental
Adalah anak yang memiliki mental yang sangat rendah, selalu membutuhkan bantuanorang lain karena tidak mampu mengurus dirinya sendiri, kecerdasannya terbatas, apatis, serta perhatiannya labil. Anak yang keterbelakangan mental menjadi beberapa bagian yaitu :
a. Idiot, yaitu anak yang paling rendah taraf intelegensinya (IQ>20)
gambar 5 Idiot
b. Imbesil, yaitu anak yang mempunyai (IQ 20-50)
c. Debil atau moron, yaitu anak yang mempunyai (IQ 50-70)
C. Sebab-sebab Anak Berkebutuhan Khusus
1. Peristiwa Pra Natal (dalam kandungan)
a. Keracunan darah
b. Infeksi karena penyakit kotor (penyakit kelamin/spilis yang diderita ayah atau ibu)
c. Kekurangan vitamin atau kelebihan zat besi
2. Natal (saat kelahiran)
a. Lahir premature
b. Kelahiran yang dipaksa dengan menggunakan vacuum
c. Proses kelahiran bayi sungsang
3. Post Natal (setelah kelahiran)
a. Terjadi incident
b. Kekurangan vitamin atau zat besi
c. Penyakit panas tinggi dan kejang-kejang
D. Cara Menangani Anak Berkebutuhan Khusus
1. Penguatan kondisi mental orang tua
2. Dukungan sosial yang memadai
3. Peran aktif pemerintah
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Anak yang berkebutuhan khusus didefinisikan sebagai anak yang memerlukan pendidikan dan layanan khusus untuk mengembangkan potensi kemanusiaan mereka secara sempurna. Penyebutan sebagai anak berkebutuhan khusus, dikarenakan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, anak ini membutuhkan bantuan layanan pendidikan, layanan sosial, layanan bimbingan konseling, dan berbagai jenis layanan lainnya yang bersifat khusus.
Dalam penanganan anak berkebutuhan khusus, terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan, diantaranya yaitu penguatan mental orang tua yang mempunyai anak berkebutuhan khusus, dukungan yang kuat dari tetangga dan lingkungan sekitar, peran aktif pemerintah dalam menjadikan pelayanan kesehatan dan konsultasi bagi anak yang berkebutuhan khusus
B. SARAN
Setelah mengetahui dan memahami segala sesuatu hal yang berhubungan dengan anak berkebutuhan khusus, sangat diharapkan bagi masyarakat Indonesia terutama bagi para pendidik dalam menyikapi dan mendidik anak yang menyandang berkebutuhan khusus dengan baik dan sesuai dengan yang diharapkan. Karena pada dasarnya anak seperti itu bukan malah dijauhi akan tetapi didekati dan diperlakukan sama dengan manusia normal lainnya akan tetapi dengan cara yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
An, M. T. (n.d.). Petunjuk Mengatasi Stres. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Dariyo, A. (2007). Psikologi Perkembangan Anak 3 Tahun Pertama. Bandung: Revika Aditama.
Sarlito, W. (2010). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers.
Sejarah Peradaban Islam di China
MAKALAH
SEJARAH ISLAM DUNIA
Makalah Ini Dibuat untuk Menyelesaikan Tugas Sejarah Islam Dunia
Mata Kuliah : Sejarah Islam Dunia
Dosen : A. Adibudin Al-Halim, M.Pd
Di susun oleh :
NURUL HIDAYAH (1623211011)
FAKULTAS TARBIYAH PRODI PAI A
INSTITUT AGAMA ISLAM IMAM AL GHAZALI
TAHUN AJARAN 2017/2018
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rosulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya saya mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas terstruktur Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam yangberjudul Sejarah Peradaban Islam di China. Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Sejarah Peradaban Islam di China yang saya dapatkan dari berbagai sumber baik referensi buku ataupun internet. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca.Saya sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, saya mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar baik di penulisan yang akan datang.
Cilacap, 10 oktober 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB I 4
PENDAHULUAN 4
A. Latar Belakang 4
B. Rumusan Masalah 4
C. Tujuan 4
BAB II 5
PEMBAHASAN 5
A. Sejarah Masuknya Islam di China 5
B. Perkembangan Islam di China 6
BAB III PENUTUP 10
A. KESIMPULAN 10
B. SARAN 10
DAFTAR PUSTAKA 11
BAB I
PENDAHULUAN
Cina adalah Negara yang menggunakan mandarin sebagai bahasa nasionalnya manganggap bahwa agama tidaklah terlalu penting. Karena mereka menganggap bahwa agama hanyalah sesuatu yang kuno dan agama hanya dipakai pada masyarakat yang tidak mampu menjalani hidup. Di Negara yang tidak mengenal Tuhan, islam hidup dan berkembang. Bahkan banyak sumbangan islam telah diwariskan, diantaranya system kalender, matematika, dan kedokteran. Cina merupakan Negara yang mempunyai penduduk terbesar didunia, sekalipun ia sering dilihat sebagai Negara komunis, ia juga dikenal negeri yang tak bertuhan. Oleh karena itu, Umat islam wajib berdakwah untuk meluruskan jalan yang telah menyimpang itu.Ada interaksi dan proses sejarah yang panjang antara masyarakat cina dan islam. melalui makalah ini kita akan melihat pasang surut sejarah islam di china.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Sejarah Awal Mua Masuknya Islam di China?
2. Bagaimanakah Perkembangan Islam di China?
C. Tujuan
1. Agar pembaca dapat mengetahui kapan Islam masuk di China
2. Agar pembaca dapat mengetahui perkembangan Islam di China
BAB II
PEMBAHASAN
Agama Islam telah tersebar di China selama lebih 1300 tahun. Di China terdapat sebanyak 140 juta penduduk dari 10 suku bangsa yang beragama Islam termasuk etnik Huizu, Kazakh, Kirgiz, Tajik, Uzbek, Tatar dan yang lainnya. Agama Islam sudah tidak asing bagi penduduk di negara ini.Ia telah menjadi salah satu agama yang penting di China. Islam telah menjadi salah satu agama yang penting di China. Agama Islam dipercayai berkembangnya di China pada tahun 651 M pada masa Dinasti Tang. Dinasti Tang merupakan salah satu dinasti yang paling makmur dalam sejarah China. Pada zaman itu terdapat ibu negara Disnati Tang ke Negara Arab. Agama Islam masuk ke negeri China melalui jalur perdagangan darat dan laut, yang disebut "jalur sutra". Para pedagang yang berasal dari Arab selain untuk berdagang, mereka juga menyebarkan agama Islam. Oleh karena itu, mereka sering disebut nama Hui-hui. Agama Islam disebut dengan Hui-hui Chew atau Tsing Ching Chew, yang berarti agama yang suci.
Agama Islam pada zaman Dinasti Tang masih lemah, jumlah penganutnya kebanyakan adalah saudagar dari Arab yang tinggal di China. Mereka mayoritas lebih kaya daripada orang biasa. Pada zaman Wudai, China utara sering berperang dan China selatan lebih aman, banyak penganut agama Islam telah pindah ke China selatan. Pada zaman itu, agama Islam telah berkembang. Banyak orang China menganut agama Islam. Masjid pada zaman Dinasti Tang dan Wudai masih mempunyai corak seni Arab dan belum menerima pengaruh seni tradisional China. Kebanyakan masjid pada zaman itu terletak di pelabuhan atau bandar, pusat politik dan ekonomi. Masjid Huaizheng di Bandar Guangzhou yang dibina pada Dinasti Tang dianggap sebagai masjid yang tertua di China. Masjid tersebut masih mempunyai corak seni Arab.
Pada zaman Dinasti song, agama Islam dianggap lebih mulia oleh rakyat China. Agama Islam telah mulai berkembang di China dan kawasan kediaman penduduk beragama Islam lebih luas. Banyak orang asing yang beragama Islam tinggal di Bandar Guangzhou di Provinsi Guangdong dan Bandar Quanzhou di Provinsi Fujian secara berkumpulan.
Masjid pada zaman Dinasti Song yang masih ada sekarang sudah tidak banyak, yang paling terkenal ialah masjid “Qing Jung Si” di Bandar Quanzhou.
Zaman Dinasti Yuan merupakan zaman yang paling penting bagi perkembangan agama Islam di China. Agama Islam di China berkembang paling pesat dan makmur pada zaman itu. Islam mempunyai kedudukan yang penting diarena politik dan kehidupan masyarakat. Para penganut agama Islam bertambah pesat dan banyak orang Islam di China yang mengadakan perkembangan seni Arab, bentuknya telah menerima seni China dan banyak menggunakan kayu yang diukir.
Pada zaman Dinasti Ming, perkembangan agama Islam di China telah menghadapi rintangan, Maharaja pertama Dinasti Ming memandang rendah terhadap agama Islam. Baginda mengeluarkan perintah untuk melarang rakyat menyembelih lembu secara tersendiri dan beberapa dasar yang mendiskriminasi umat Islam, termasuk orang Islam menjadi pegawai kerajaan dan lain-lainnya. Hal tersebut mencetuskan kemarahan umat Islam di China. Penduduk Islam mengadakan pemberontakan di ibu kota negara di bagian selatan, Maharaja pertama Dinasti Ming melaranag perdagangan melalui jalur laut. Semua kapal tidak dibenarkan berlayar. Di bagian utara, Maharaja secara besar-besaran memperbaiki tembok China. Hal tersebut berarti memutuskan dua komunikasi antara umat Islam di China dan Arab. Agana Islam di China berkembang secara sendiri. Sejak itu, agama Islam di China semakin hari semakin bercorak China.
B. Perkembangan Islam di China
El Misykat-“Tuntutlah Ilmu sampai ke negeri Cina,” begitu kata petuah Arab. Jauh sebelum ajaran Islam diturunkan Allah SWT, bangsa Cina memang telah mencapai peradaban yang amat tinggi. Pada masa itu, masyarakat Negeri Tirai Bambu sudah menguasai beragam khazanah kekayaan ilmu pengetahuan dan peradaban. Tak bisa dipungkiri bahwa umat Islam juga banyak menyerap ilmu pengetahuan serta peradaban dari negeri ini.
Beberapa contohnya antara lain, ilmu ketabiban, kertas, serta bubuk mesiu. Kehebatan dan tingginya peradaban masyarakat Cina ternyata sudah terdengar di negeri Arab sebelum tahun 500 M.Sejak itu, para saudagar dan pelaut dari Arab membina hubungan dagang dengan `Middle Kingdom’julukan Cina.
Untuk bisa berkongsi dengan para saudagar Cina, para pelaut dan saudagar Arab dengan gagah berani mengarungi ganasnya samudera. Mereka `angkat layar’ dari Basra di Teluk Arab dan kota Siraf di Teluk Persia menuju lautan Samudera Hindia.
Sebelum sampai ke daratan Cina, para pelaut dan saudagar Arab melintasi Srilanka dan mengarahkan kapalnya ke Selat Malaka.Setelah itu, mereka berlego jangkar di pelabuhan Guangzhou atau orang Arab menyebutnya Khanfu.Guangzhou merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan tertua di Cina.Sejak itu banyak orang Arab yang menetap di Cina.Ketika Islam sudah berkembang dan Rasulullah SAW mendirikan pemerintahan di Madinah, di seberang lautan Cina tengah memasuki periode penyatuan dan pertahanan.Menurut catatan sejarah awal Cina, masyarakat Tiongkok pun sudah mengetahui adanya agama Islam di Timur Tengah.Mereka menyebut pemerintahan Rasulullah SAW sebagai Al-Madinah.
Orang Cina mengenal Islam dengan sebutan Yisilan Jiao yang berarti ‘agama yang murni’.Masyarakat Tiongkok menyebut Makkah sebagai tempat kelahiran ‘Buddha Ma-hia-wu’ (Nabi Muhammad SAW).Terdapat beberapa versi hikayat tentang awal mula Islam bersemi di dataran Cina.Versi pertama menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina dibawa para sahabat Rasul yang hijrah ke al-Habasha Abyssinia (Ethopia). Sahabat Nabi hijrah ke Ethopia untuk menghindari kemarahan dan amuk massa kaum Quraish jahiliyah. Mereka antara lain; Ruqayyah, anak perempuan Nabi; Usman bin Affan, suami Ruqayyah; Sa’ad bin Abi Waqqas, paman Rasulullah SAW; dan sejumlah sahabat lainnya.Para sahabat yang hijrah ke Etopia itu mendapat perlindungan dari Raja Atsmaha Negus di kota Axum. Banyak sahabat yang memilih menetap dan tak kembali ke tanah Arab.Konon, mereka inilah yang kemudian berlayar dan tiba di daratan Cina pada saat Dinasti Sui berkuasa (581 M – 618 M).
Sumber lainnya menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina ketika Sa’ad Abi Waqqas dan tiga sahabatnya berlayar ke Cina dari Ethopia pada tahun 616 M. Setelah sampai di Cina, Sa’ad kembali ke Arab dan 21 tahun kemudian kembali lagi ke Guangzhou membawa kitab suci Alquran. Ada pula yang menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina pada 615 M – kurang lebih 20 tahun setelah Rasulullah SAW tutup usia.
Adalah Khalifah Utsman bin Affan yang menugaskan Sa’ad bin Abi Waqqas untuk membawa ajaran Illahi ke daratan Cina. Konon, Sa’ad meninggal dunia di Cina pada tahun 635 M. Kuburannya dikenal sebagai Geys’ Mazars.Utusan khalifah itu diterima secara terbuka oleh Kaisar Yung Wei dari Dinasti Tang. Kaisar pun lalu memerintahkan pembangunan Masjid Huaisheng atau masjid Memorial di Canton – masjid pertama yang berdiri di daratan Cina. Ketika Dinasti Tang berkuasa, Cina tengah mencapai masa keemasan dan menjadi kosmopolitan budaya. Sehingga, dengan mudah ajaran Islam tersebar dan dikenal masyarakat Tiongkok. Pada awalnya, pemeluk agama Islam terbanyak di Cina adalah para saudagar dari Arab dan Persia. Orang Cina yang pertama kali memeluk Islam adalah suku Hui Chi. Sejak saat itu, pemeluk Islam di Cina kian bertambah banyak.Ketika Dinasti Song bertahta, umat Muslim telah menguasai industri ekspor dan impor.Bahkan, pada periode itu jabatan direktur jenderal pelayaran secara konsisten dijabat orang Muslim.
Pada tahun 1070 M, Kaisar Shenzong dari Dinasti Song mengundang 5.300 pria Muslim dari Bukhara untuk tinggal di Cina. Tujuannya untuk membangun zona penyangga antara Cina dengan Kekaisaran Liao di wilayah Timur Laut.Orang Bukhara itu lalu menetap di di antara Kaifeng dan Yenching (Beijing). Mereka dipimpin Pangeran Amir Sayyid alias ‘So-Fei Er’.Dia bergelar `bapak’ komunitas Muslim di Cina. Ketika Dinasti Mongol Yuan (1274 M -1368 M) berkuasa, jumlah pemeluk Islam di Cina semakin besar.Mongol, sebagai minoritas di Cina, memberi kesempatan kepada imigran Muslim untuk naik status menjadi Cina Han.Sehingga pengaruh umat Islam di Cina semakin kuat. Ratusan ribu imigran Muslim di wilayah Barat dan Asia Tengah direkrut Dinasti Mongol untuk membantu perluasan wilayah dan pengaruh kekaisaran. Bangsa Mongol menggunakan jasa orang Persia, Arab dan Uyghur untuk mengurus pajak dan keuangan. Pada waktu itu, banyak Muslim yang memimpin korporasi di awal periode Dinasti Yuan.Para sarjana Muslim mengkaji astronomi dan menyusun kalender. Selain itu, para arsitek Muslim juga membantu mendesain ibu kota Dinasti Yuan, Khanbaliq.
Pada masa kekuasaan Dinasti Ming, Muslim masih memiliki pengaruh yang kuat di lingkaran pemerintahan. Pendiri Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang adalah jenderal Muslim terkemuka, termasuk Lan Yu Who. Pada 1388, dan memimpin pasukan Dinasti Ming dan menundukkan Mongolia. Tak lama setelah itu muncul Laksamana Cheng Ho – seorang pelaut Muslim handal. Saat Dinasti Ming berkuasa, imigran dari negara-negara Muslim mulai dilarang dan dibatasi. Cina pun berubah menjadi negara yang mengisolasi diri.Muslim di Cina pun mulai menggunakan dialek bahasa Cina. Arsitektur Masjid pun mulai mengikuti tradisi Cina. Pada era ini Nanjing menjadi pusat studi Islam yang penting. Setelah itu hubungan penguasa Cina dengan Islam mulai memburuk.
BAB III
PENUTUP
Agama Islam telah tersebar di China selama lebih 1300 tahun. Di China terdapat sebanyak 140 juta penduduk dari 10 suku bangsa yang beragama Islam termasuk etnik Huizu, Kazakh, Kirgiz, Tajik, Uzbek, Tatar dan yang lainnya. Agama Islam sudah tidak asing bagi penduduk di negara ini.Ia telah menjadi salah satu agama yang penting di China. Islam telah menjadi salah satu agama yang penting di China. Agama Islam dipercayai berkembangnya di China pada tahun 651 M pada masa Dinasti Tang. Dinasti Tang merupakan salah satu dinasti yang paling makmur dalam sejarah China. Pada zaman itu terdapat ibu negara Disnati Tang ke Negara Arab. Agama Islam masuk ke negeri China melalui jalur perdagangan darat dan laut, yang disebut "jalur sutra".
B. SARAN
Dalam menyelesaikan Makalah Sejarah Islam Dunia “ Sejarah Islam di China “ ini, penyusun yakin masih jauh dari kata sempurna. Penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar kedepannya tulisan ini menjadi lebih sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
PERENCANAAN DAN DESAIN PEMBELAJARAN PAI
LANGKAH-LANGKAH MENYUSUN KOMPETENSI
Makalah Ini Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata
Kuliah Perencanaan Dan Desain Pembelajaran PAI, Yang Disusun Oleh:
1. Marissa (1623211036)
2. Siti Hayati (1623211015)
3. Siti Salimatun Suburiyah (1623211012)
Semester :
3 (Tiga)
FAKULTAS TARBIYAHPRODI PAI A
INSTITUT AGAMA ISLAM IMAM GHAZALI (IAIIG) CILACAP
TAHUN AJARAN 2017/2018
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dengan menyebut nama Alloh SWT yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas
kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan,rahmat, hidayah dan inayah-Nya kepada
kami. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Perencanaan Dan Desain
Pembelajaran PAI yang bertema Langkah-Langkah Menyususn Kompetensi.
Adapun makalah Perencanaan Dan Desain
Pembelajaran PAI telah kami usahakan semaksimal mungkin. Namun, tidak lepas
dari semua itu kami menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi
penyusunan bahaanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu, dengan lapang dada
dan tangan terbuka kami membuaka selebar-lebarnya bagi para pembaca yang ingin
membei saran dan kritik kepada kami. Sehingga kami dapat memperbaiki makalah
kami kami yang masih jauh dari kesempurnaan.
Akhrnya penyusun mengharapkan semoga makalah
Perencanaan Dan Desain Pembelajaran PAI ini tentang Langkah-Langkah Menyusun
Kompetensi kita dapat mengambil manfaat yang ada di dalam kandungan pembahasan
ini.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Cilacap, 14 Oktober 2017
Penulis
DAFTAR ISI
BAB IPENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam suatu penyelenggaraan pendidikan
pastilah akan diperlukan sebuah kurikulum. Didalam kurikulum akan menjabarkan
tentang tata pelaksaan maupun pengembangan dari pendidikan itu sendiri. Selain
kurikulum ada juga standar kompetensi yang sangat berperan penting dalam
peningkatan kualitas pendidikan.
Untuk dapat mewujudkan hal tersebut, Badan
Standar Nasional Pendidikan (BSNP) telah melakukan penyusunan Standar Isi (SI),
yangkemudian dituangkan ke Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
(Permendiknas) nomor 22 tahun 2006 yang mencangkup dua komponen, yaitu:
1. Standar Kompetensi (SK) merupakan ukuran kemampuan minimal yang mencangkup
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dicapai, diketahui dan mahir
dilakukan oleh peserta didik pada setiap tingkatan dari suatu yang diajarkan.
2. Kompetensi Dasar (KD) merupakan penjabaran dari Standar Kompetensi peserta
didik yang cakupan materinya lebih sempit dibandingkan dengan SK peserta didik.
Mengenai penjelasan selanjutnya akan dibahas
pada bab berukutnya yaitu bagan pembahasan.
B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang akan kami bahas
adalah:
1.
Bagaimanakah langkah-langkah perumusan
kompetensi dasar?
2.
Bagaimanakah langkah-langkah perumusan
indikator?
3.
Bagaimanakah langah-langkah pengembangan
materi pembelajaran yang sesuai dengan taksonomi?
C. TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah yang telah kami
kemukakan diatas, maka yang menjadi tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.
Mengetahui langkah-langkah perumusan
kompetensi dasar.
2.
Mengeahui langkah-langkah perumusan indikator.
3.
Mengetahui langkah-langkah pengembangan materi
pembelajaran yang sesuai dengan taksonomi.
A. Kompetensi
Departemen Pendidikan Nasional menyederhanakan
definisi kompetensi sebagai “Pengetahuan,keterampilan,sikap, dan nilai-nilai
yang diwujudkan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak” (Depdiknas,2004).
Langkah-langkah Menyusun Kompetensi
1. Menentukan kompetensi lulusan/hasil belajar pada akhir suatu atau
serangkaian pembelajaran. Gunakan kata kerja dari taksonomi Bloom,kratwohl, dan
Anderson.
2. Gunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh peserta didik dan pembaca
umum,termasuk guru dan dosen, orang tua, pembina pendidikan serta pengambil
keputusan, Bahasa perlu jelas, lugas, tegas, serta dapat dikerjakan dan dapat
dinilai.
3. Nyatakan target pengunjukan kompetensi yang memberikan informasi terhadap
peserta didik dan guru atau dosen tentang sejauh mana pencapaian atau penguasan
kompetensi.
4. Sedapat mungkin capailah keseimbangan pertanyaan kompetensi,penekanan dan fokus
tetap diperlukan, keseimbangan tidak perlu dipaksakan.
5. Batasi kompetensi yang akan dicapai pada setiap kegiatan pembelajaran agar
lebih terarah dan fokus.
6. Klasifikasikan kompetensi yang sejenis ke dalam suatu kompetensi, tetapi
jangan memaksakan perumusan suatu kompetensi yang terlalu sarat, Bila diperlukan,
rumuskan kompetensi yang sangat penting secara terpisah.
7. Koordinasikan kompetensi yang memerlukan urutan untuk menunjukan
perkembangan, kesinambungan, keutuhan, dan keberlanjutan, Tunjukkan peningkatan
penguasaan kompetensi dari yang lebih mendasar ke yang lebih rumit, kompleks,
dan canggih dalam urutan yang utuh.
8. Hindari mencapurkan definisi kompetensi, kompetensi menunjukkan kecakapan
atau kemampuan, Standar kinerja menunjukan pembangunan atau penegasan
pencapaian kinerja dan metode penilaian, Oleh karena itu, intruksi yang
menuntut pencapaian kompetensi dan instruksi penilaian yang menuntut
pengunjukan perubahan perilaku perlu disusun dengan kriteria yang jelas.
9. Hindari anggapan untuk dapat merumuskan kompetensi secara sempurna pada
permulaan. Lakukan secara bertahap, berlatihlah, cobalah, dan perbaiki agar
lebih mantap.[1]
B. Kompetensi Dasar
Kompetensi Dasar adalah pengetahuan,
ketrampilan dan sikap minimal yang harus dicapai oleh siswa untuk menunjukkan
bahwa siswa telah menguasai standar kompetensi yang telah ditetapkan, oleh
karena itulah maka kompetensi dasar merupakan penjabaran dari standar
kompetensi. [2]
Dalam mengkaji Kompetensi Dasar mata pelajaran
sebagaimana yang tercantum pada standar isi dilakukan dengan memperhatikan
hal-hal berikut:
a. Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin imu dan tingkat kesulitan
materi, tidak harus sesuai dengan urutan yang ada distandar isi.
b. Keterkaitan antara standar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam
mata pelajaran.
c. Pada dasarnya rumusan kompetensi dasar itu ada yang operasional maupun yang
tidak operasional karena setiap kata kerja tindakan yang berada pada kelompok pemahaman
dan pengetahuan yang tidak bisa digunakan untuk rumusan kompetensi dasar.
Sehingga langkah-langkah untuk menyusun
kompetensi dasar adalah:
1) Menjabarkan kompetensi yang dimaksud, dengan bertanya: “kemampuan apa saja
yang harus dimiliki siswa agar standar kompeetensi dapat dicapai?” jawaban dari
pertanyaan tersebut kemudian didaftar baik yang menyangkut pengetahuan, sikap,
dan keterampilan.
2) Tulislah rumusan kompetensi dasarnya.
Syarat yang harus dipenuhu untuk dapat merumuskan
KD yang baik adalah sebagai berikut:
a. Rumusan tujuan yang dibuat harus berpusat pada siswa, mengacu pada
perubahan tingakah laku subjek pembelajaran yaitu siswa sebagai peserta didik.
b. Rumusan KD harus mencerminkan tingkah laku operasional yaitu tingakah laku
yang dapat diamati dan diukur yang dirumuskan dengan menggunakan kata-kata
operadional.
c. Rumusan KD harus berisikan makna dari pokok bahasan atau materi pokok yang
akan diajarkan pada saat kegiatan belajar mengajar.
C. IndikatorIndikator merupakan penanda pencapai KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta diduk, mata pelajaran , satuan pendi
\\dikan.[3]
Potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja oprasional yang terukur dan/
atau dapat diobservasi.
Menurut Depag indikator adalah wujud dari kompetensi
dasar yang lebih spesifik. Sedangkan menurut E. Mulyasa indikator merupakan
penjabaran dari kompetensi dasar yang menunjukkan tanda-tanda perbuatan dan
respon yang dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik. Indikator juga
dikembangkan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan potensi daerah dan
peserta didik dan juga dirumuskan dalam rapat kerja oprasional yang dapat
diukur dan dapat diobservasi sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam
penyusunan alat penilaian.
Sedangkan menurut Drawin Syah indikator pembelajaran
adalah karakteristik. Ciri-ciri, tanda-tanda perbuatan atau respon yang
dilakukan oleh siswa. Untuk menunjukkan bahwa siswa telah memiliki kompetensi
dasar tertentu.
Jadi indikator adalah merupakan kompetensi dasar acara
spesifisik yang dapat dijadikan untuk nilai ketercapaian hasil pembelajaran dan
juga dijadikan tolak ukur sejauh mana penguasaan siswa terhadap suatu pokok dan
bahasan atau mata pelajaran tertentu.[4]
Sebelum melakukan penyusunan indikator, maka harus
diperhatikan terlebih dahulu komponen-komponen sebagai berikut:
1.
Indikator merupakan penjabaran dari KD yang menunjukan
tanda-tanda, perbuatan atau respon yang dilakukan atau ditampilkan oleh peserta
didik.
2.
Rumusan indikator menggunakan kerja oprasional yang
terukur / dapat di observasi.
3.
Indikator digunakan sebagai bahan dasar untuk menyusun
alat penilaian
Kata-kata oprasional yang
dijabarkan dalam membuat indikator:
1.
Kognitif, meliputi:
a.
Pengetahuan : menyebutkan , menuliskan, menyatakan,
mengurutkan, mengidentifikasi, mendefinisikan, mencocokan, memberi nama, dan
melukiskan.
b.
Pemahaman : menerjemahkan, mengubah, menggeneralisasikan,
menguraikan, menuliskan kembali, merangkum, membedakan, mempertahankan,
menyimpulkan, mengemukakan mendapat, dan menjelaskan
c.
Sintesis : merancang, merumuskan, merancang,
mengorganisasikan, menerapkan, memadukan, dan merencanakan.
d.
Penerapan : mengoprasikan, menghasilkan, mengatasi,
mengubah, menggunakan, menunjukan, mempersiapkan, dan menghitung.
e.
Analisis : menguraikan, membagi-bagi, memilih dan
mrmbrdakan.
f.
Evaluasi : mengkritisi, menafsirkan, dan memberikan
evaluasi.
2.
Efektif, meliputi:
a.
Penerimaan : mempercayai, mimilih, mengikuti, bertanya,
dan mengalokasikan.
b.
Menganggapi : konfirmasi, menjawab, membaca, membanu,
melaksanakan, melaporkan ,dan menampilkan.
c.
Penanaman nilai : menginisiasi, mengundang, melibatkan,
mengusulkan, dan melakukan.
d.
Pengorganisasian: menverivikasi, menyusun, menyatukan,
menghubungkan dan mempengaruhi.
e.
Karakterisasi: menggunkana nilai-nilai sebagai pandangan
hidup, mempertahankan nilai-nilai yang sudah diyakini.
3.
Psikomotorik/gerak jiwa, meliputi:
a.
Pengamatan: mengamati proses, memperhatikan pada
tahap-tahap sebuah perbuatan, memberi perhatian pada sebuah artikulasi.
b.
Peniruan: melatih, mengubah, membongkar sebuah struktur,
membangun struktur dan menggunakan sebuah model.
c.
Pembiasaan: membiasakan perilaku yang sudah dibentuknya,
mengontrol kebiasaan agar tetap konsisten.
d.
Penyesuaian: penyesuaian model, mengembangkan model, dan
menerapakan model.
Berikut ini urutan cara menyusun indikator:
a.
Mengkaji KD tersebut untuk menidentifikasi indikatornya
dan rumusan indikatornya yang dianggap relevan tanpa memikirkan urutannya lebih
dahulu juga tentukan indikatir-indikator yang relevan dan tuliskan sesuai
urutannya.
b.
Kajilah apakah semua indikator tersebut telah
mempresentasikan KD nya, apabila belum lakukanlah analisislanjut untuk
menemukan indikator-indikator lain yaang kemungkinan belum teridentifikasi.
c.
Tambahkan indikator lain sebelumnya dan ubahlah rumusan
yang kurang tepat dengan lebih akurat dan pertimbangkan urutannya.[5]
D. Pengembangan Materi Pembelajaran Sesuai Dengan Taksonomi
Tekasonomi Bloom merujuk padataksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan.
Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956.
Taksonomi bertujuan meningkatkan komunikasi (peristiwa belajar), dan sebagai
alat dalam praktek mengidentifikasi oleh para pendidik. Taksonomi yang
dirancang ini, merupakan sarana pengelompokan perilaku yang diharapkan,
berkaitan dengan proses mental atau pemkiran akibat dari pengalaman pendidikan.
Materi pembelajaran merupakan komponen pembelajaran yang memegang peranan
cukup esensial, mengarahkan peserta didik pada pencapaian tujuan atau sasaran
pembelajaran yang ditetapkan. Didalam materi pembelajaran terkandung
aspek-aspek tertentu yang diharapakan mampu membimbing mereka untuk berperilaku
yang baik. Aspek-aspek tersebut diantaranya: logika, etika, dan estetika.
Ketiganya adalah perangkatpengetahuan peserta didik tentang
pertimbangan-pertimbangan yang harus dilakukan ketika hendak melakukan
aktivitas tertentu. Melalui penguasaan ketiga aspek tersebut mereka akan
memiliki pilihan terkait dengan perilaku seperti apa yang seharusnya dilakukan,
dan perilaku seperti apa yang tidak seharusnya dilakukan. Lebih dari itu peserta didik dapat memiliki
bekal dalam mewujudkan kehidupan yang indah dan bermakna, sebagaimana telah
menjadi harapan bersama yang secara universal tercantum dalam tujuan
pendidikan.
Langkah-langkah pengembangan materi
pembelajaran
1. Mengidentifikasi berbagai aspek yang terkandung dalam standar kompetensi
dan kompetensi dasar yang harus dicapai.
2. Mengidentifikasi jenis materi pembelajaran. Hal ini merupakan implikasi
dari keberagaman materi pembelajaran materi pembelajaran itu sendiri.
3. Menentukan pilihan terhadap alternatif materi pembelajran yang kebih
efektif dan lebih relevan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
4. Menentukan sumber dan media pendukung terhadap keberhasilan penyampaian
materi pembelajaran.
BAB IIIPENUTUP
A. KESIMPULAN
Standar kompetensi dan kompetensi dasar
merupakan arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan
pembelajaran dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.
Dalam menyusun kompetensi ada beberapa langkah
yang harus diperhatikan, seperti:
1. Langkah-langkah merumuskan kompetensi, yaitu:
~
Menetukan kompetensi lulusan/hasil belajar
pada akhir suatu rangkaian pembelajaran.
~
Gunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh
peserta didik
~
Nyatakan target pengunjukan kompetensi yang
memberikan informasi terhadap peserta didik
~
Capailah keseimbangan pertanyaan kompetensi,
penekanan dan fokus tetap diperlukan
~
Batasi kompetensi yang akan dicapai pada
setiap kegiatan pembelajaran
~
Klasifikasikan kompetensi yang sejenis ke
dalam suatu kompetensi
~
Koordinasikan kompetensi yang memerlukan
urutan untuk menunjukan perkembangan , kesinambungan, keutuhan dan
keberlanjutan
~
Hindari mencampurkan definisi kompetensi
2. Langkah-langkah merumuskan indikatorkopetensi adalah
~
Menganalisis tingkat kompetensi dalam SK dan
KD yang telah dirumuskan atau dikembangkan sebelumnya.
~
Menganalisis karateristik mata pelajaran,
keagamaan kopetensi siswa, dan potensi sekolah.
~
Menganalisis kata-kata operasional dalam
merumuskan indikator.
~
Penggunaan kata-kata operasional dalam
rumuskan SK dan KD.
3. Langkah-langkah merumuskan materi pembelajaran adalah
~
Menentukan KD yang akan dikembangkan menjadi
materi pokok
~
Memahami subtasi rumusan KD, apakah pernyataan
KD tersebut berupa fakta, konsep,prinsip,dan prosedur.
~
Meneruskan materi pokok pembelajaran.
~
Uraian materi pokok pembelajaranharus disusun
secara sistematis.
B. SARAN
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini terdapat bnyak
kekurangan dan kekhilafan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik
dan saran yang membangun dari para pembaca sehingga dalam pembutan makalah
selanjutnya akan menjadi lebih baik. Yang terakhir harapan penulis semoga makalah
ini bermanfaat bagi pembaca. Amiiin
DAFTAR PUSTAKA
~
http://blog.unnes.ac.id/seputarpendidikan/2015/10/19/standar-kompetensi-sk-kopetensi-dasar-kd-dan-indikator/ (10.02 WIB/12 Oktober 2017)
~
Abdul Majid, 2007, Perencanaan Pembelajaran
Mengembankan Standar Kompetensi Guru, Bandung: Rosdakarya,
~
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 22 Tahun
2006, Jakarta.
~
Ella Yulaelawati,M.A.,Ph.D.,2004. Kurikulum
Dan Pembelajaran. Bamdung:Pakar Raya
[3]
Ibid.
[4] Abdul Majid, 2007, Perencanaan Pembelajaran Mengembankan Standar Kompetensi
Guru, Bandung: Rosdakarya, hlm 50
[5] http://blog.unnes.ac.id/seputarpendidikan/2015/10/19/standar-kompetensi-sk-kopetensi-dasar-kd-dan-indikator/ (10.02 WIB/12 Oktober 2017)
Langganan:
Postingan (Atom)
